Selasa, 29 Januari 2013

Agama dan Budaya

Diposting oleh Unknown di 18.44
2.1      Sejarah Umum Agama Kristen
Mengenai kapan mulai muncul agama Kristen mulai, ada beberapa pendapat yang berbeda: Pertama, mengatakan bahwa agama Kristen dimulai pada saat peristiwa Pentakosta (turunnya Roh Kudus), karena pada peristiwa tersebut Tuhan memberikan Roh-Nya kepada Para Rasul atau orang percaya lainnya, yang memberi kekuatan dan kemampuan kepada mereka untuk mengabarkan Injil. Kedua, menunjuk kepada penyebutan terhadap pengikut Kristus sebagai orang-orang Kristen di Antiokia (Kis. 15:7-21). Ketiga, ada yang menunjuk awal agama Kristen pada peristiwa Paskah/Kebangkitan Yesus, karena anggapan bahwa kebangkitan Yesus itu menjadi titik awal dari iman Kristen dan penyebarannya. Namun demikian, karena sumber pengajaran atau tokoh yang mengajarkan agama Kristen /Injil adalah Yesus Kristus, maka tentu awal sejarah agama Kristen dapat kita tunjuk pada waktu ketika Yesus masih hidup dan berkarya, atau bahkan dapat ditunjuk pada saat kelahiran Yesus. Dengan kata lain, sejarah agama Kristen sudah dimulai sejak Yesus ada di dunia
dan melakukan karya penyelamatan-Nya. 

2.2      Definisi Agama Kristen
Pengertian Agama Kristen yang sesungguhnya adalah diambil dari kata Kristen itu sendiri yang berarti Kristus atau Kristus Kecil. Jadi pengertian Agama Kristen secara umum adalah Agama Kristus, namun ini hanyalah sebutan saja. Secara garis besar, pengertain Agama Kristen adalah sekelompok orang yang percaya kepada Kristus dan beribadah dengan mementingkan aspek-aspek rohani yang telah diajarkan oleh Yesus Kristus, pertama kali Kristen itu belum ada, yang ada hanyalah Gereja Mula-Mula atau biasa disebut Gereja Perdana. Agama Kristen, baru pertama kali di Anthiokhia. Agama Kristen mempunyai banyak aliran, sekali lagi mirip Agama Islam, dan aliran Kristen Ortodoks Timur, Kristen Katolik Roma, dan Kristen Protestan. Para ahli juga menyatakan bahwa Islam dan Kristen adalah agama yang melalui “Proses Evolusi” dari agama primitif, karena seperti yang diketahui Islam dan Kristen sudah ada sejak berapa tahun ribu silam yang lalu, jadi tidak heran jika para ilmuan menyebut agama ini sebagai agama hasil evolusi.
Agama Kristen mempunyai kitab pengajaran yang bernama Alkitab. Seperti yang sudah disampaikan diatas, Kristen punya aliran-aliran, jadi punya Alkitab masing-masing, contohnya Kristen Protestan punya 66 bagian kitab yang terdiri dari 39 pasal perjanjian lama dan 27 pasal perjanjian baru, bedanya dengan Katolik, mereka ada pasal tambahan yang alkitab mereka disebut Deuteronika.
Di dalam Agama Kristen sangat kental dengan mukjizat-mukjizat yang menabjubkan yang dilakukan oleh Yesus Kristus, contohnya seperti membelah lautan, mengubah air menjadi anggur dan lain sebagainya.
2.3      Definisi Budaya
Kebudayaan tentunya bukanlah sesuatu yang asing bagi kita. Untuk lebih jelasnya apa dan bagaimana itu kebudayaan kita akan melihat beberapa pengertian kebudayaan dari beberapa tokoh seperti dibawah ini.
Koentjaraningrat mengatakan : “Kata “kebudayaan” berasal dari bahasa Sanskerta : budhayah, yaitu bentuk jamak dari budi yang berarti “budi” atau “akal”. Dengan demikian kebudayaan dapat diartikan hal-hal yang bersangkutan dengan akal. Sedangan kata ”budaya” merupakan perkembangan majemuk dari “budi daya” yang berarti “daya dari budi” sehingga dibedakan antara “budaya” dari budi yang berupa cipta, karsa, dan rasa.
Sedangkan menurut E.B. Taylor mengatakan : “kebudayaan adalah kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lainnya serta kebiasaan-kebiasaan yang didapat oleh manusia sebagai anggota masyarakat.
Sementara itu J. Verkuyl mengatakan : “kebudayaan adalah pengerjaan (pengusahaan, pengelolaan) kemungkinan-kemungkinan dalam alam ciptaan oleh manusia. Jadi dimanapun manusia mengubah dan mengusahakan kemungkiknan-kemungkinan jasmani dan rohani di dalam alam yang Tuhan ciptakan, disitulah terdapat kebudayaan. Dari pengertian-pengertian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa kebudayaan mencakup seluruh aspek kehidupan manusia.
ü   Ciri-ciri kebudayaan:
1.             Bersifat Historis : manusia membuat sejarah yang bergerak dinamis dan selalu maju, yang diwariskan turun-temurun. Kehidupan manusia melakukan dan mengalami begitu banyak perkembangan. Perubahan dan perkembangan yang dilakukan manusia tersebut, pada umumnya tercatat dalam sejarah kehidupan manusia. Perlu dicatat juga bahwa tidak ada satu kebudayaan pun yang tinggal statis. Setiap kebudayaan akan mengalami perubahan-perubahan baik yang bersifat positif, yang mengarah kepada perkembangan atau perubahan-perubahan yang bersifat negatif. Pengaruh-pengaruh yang kuat bisa datang dari luar untuk mempercepat berubahnya suatu kebudayaan perubahan itu bisa terjadi oleh karena asimilasi (penyesuaian) atau oleh karena akulturasi (peleburan), bisa jadi karena penyesuaian terhadap kebudayaan yang baru, bisa juga meninggalkan yang lama, oleh karena tidak ada lagi sesuai dengan tuntutan zaman. Contoh orang tidak lagi akan terus naik delman jika sudah ada kendaraan bermotor atau pesawat.
2.             Bersifat Geografis : kebudayaan manusia tidak selalu seragam, ada yang berkembang pesat dan ada yang lamban, ada pula yang mandeg, yang nyaris berhenti kemajuannya. Contoh Jakarta lebih pesat kemajuannya dibandingkan dengan beberapa suku di Papua, Badui, dll.
3.             Bersifat Perwujudan Niai-Nilai : di dalam perjalanan kebudayaan manusia selalu berusaha melampaui (batas) keterbatasannya, sejarah kebudayaan seperti musafir yang tidak pernah berhenti pada titik tertentu. Kebudayaan ingin selalu menciptakan yang baru. Manusia dengan kebudayaannya ingin selalu tampil tanpa batas.
2.4      Agama dan Budaya
Yojachem Wach berkata tentang pengaruh agama terhadap budaya manusia yang immaterial bahwa mitologis hubungan kolektif tergantung pada pemikiran terhadap Tuhan. Interaksi sosial dan keagamaan berpola kepada bagaimana mereka memikirkan Tuhan, menghayati dan membayangkan Tuhan.
Lebih tegas dikatakan Geertz, bahwa wahyu membentuk suatu struktur psikologis dalam benak manusia yang membentuk pandangan hidupnya, yang menjadi sarana individu atau kelompok individu yang mengarahkan tingkah laku mereka. Tetapi juga wahyu bukan saja menghasilkan budaya immaterial, tetapi juga dalam bentuk seni suara, ukiran, bangunan.
Faktor kondisi yang objektif menyebabkan terjadinya budaya agama yang berbeda-beda walaupun agama yang mengilhaminya adalah sama. Oleh karena itu agama Kristen yang tumbuh di Sumatera Utara di Tanah Batak dengan yang di Maluku tidak begitu sama sebab masing-masing mempunyai cara-cara pengungkapannya yang berbeda-beda. Ada juga nuansa yang membedakan Islam yang tumbuh dalam masyarakat dimana pengaruh Hinduisme adalah kuatdengan yang tidak. Demikian juga ada perbedaan antara Hinduisme di Bali dengan Hinduisme di India, Buddhisme di Thailan dengan yang ada di Indonesia. Jadi budaya juga mempengaruhi agama. Budaya agama tersebut akan terus tumbuh dan berkembang sejalan dengan perkembangan kesejarahan dalam kondisi objektif dari kehidupan penganutnya (Andito,ed,1998:282).Tapi hal pokok bagi semua agama adalah bahwa agama berfungsi sebagai alat pengatur dan sekaligus membudayakannya dalam arti mengungkapkan apa yang ia percaya dalam bentuk-bentuk budaya yaitu dalam bentuk etis, seni bangunan, struktur masyarakat, adat istiadat dan lain-lain. Jadi ada pluraisme budaya berdasarkan kriteria agama. Hal ini terjadi karena manusia sebagai homoreligiosus merupakan insan yang berbudidaya dan dapat berkreasi dalam kebebasan menciptakan pelbagai objek realitas dan tata nilai baru berdasarkan inspirasi agama.
2.5      Hubungan Iman Kristen dan Kebudayaan
Kebudayaan dan berbudaya, sesuai dengan pengertiannya, tidak pernah berubah; yang mengalami perubahan dan perkembangan adalah hasil-hasil atau unsur-unsur kebudayaan. Namun, ada kecenderungan dalam masyarakat (termasuk umat Kristen) yang memahami bahwa hasil-hasil dan unsur-unsur budaya dapat berdampak pada perubahan kebudayaan. Kecenderungan tersebut menghasilkan dikotomi hubungan antara iman dan kebudayaan; khususnya iman (umat) Kristen dan kebudayaan. Dikotomi tersebut memunculkan konfrontasi (bukan hubungan saling mengisi dan membangun) antara kepercayaan Kristen dan praktek budaya, karena dianggap sarat dengan spiritisme, dinamisme, animisme, dan totemnisme. Melihat kenyataan tersebut, dalam Christ and Culture, ditemukan beberapa sikap Gereja (di dalamnya termasuk para pemimpin organisasi gereja, teolog, warga gereja) terhadap kebudayaan dan praktek-praktek di dalamnya, hal tersebut antara lain:
1.             Sikap Radikal: Kristus menentang Kebudayaan. Ini merupakan sikap radikal dan ekslusif, menekankan pertantangan antara Kristus dan Kebudayaan. Menurut pandangan ini, semua sikon masyarakat berlawanan dengan keinginan dan kehendak Kristus. Oleh sebab itu, manusia harus memilih Kristus ataudanKebudayaan, karena seseorang tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Dengan demikian, semua praktek dalam unsur-unsur kebudayaan harus ditolak ketika percaya pada Yesus Kristus.
2.             Sikap Akomodasi: Kristus Milik Kebudayaan. Sikap ini menunjukkan keselarasan antar Kristus dan kebudayaan. Yesus dianggap sebagai pahlawan sejarah dunia, kehidupan dan ajaran-Nya merupakan presentasi dan prestasi manusia yang paling agung. Dalam Yesus, cita-cita proses peradaban dapat terwujud. Yesus adalah satu-satunya yang dapat menggenapi harapan-harapan dan idaman umat manusia.
3.             Sikap Perpaduan: Kristus di atas Kebudayaan. Sikap ini menunjukkan adanya suatu keterikatan antara Kristus dan kebudayaan atau ajaran iman Kristen dan tuntutan kebudayaan. Hidup dan kehidupan manusia harus terarah pada tujuan ilahi dan juga berhubungan dengan masyarakat. Ia harus mempunyai dua tujuan sekaligus. Tujuan kehidupan manusia tidak terbatas pada dunia. Ia perlu mencari hidup kekal yang disempurnakan di akhirat. Namun, ia juga bertanggungjawab di dunia. Ia perlu mengasihi dan membangun masyarakat tetapi juga mengasihi TUHAN Allah. Dengan itu, maka yang dilakukan adalah melaksanakan semua tuntutan keagamaan dan sekaligus unsur-unsur kebudayaan yang mungkin saja bisa bertantangan dengan Firman TUHAN.Sikap Dualis: Kristus dan Kebudayaan Dalam Paradoks. Sikap dualis menunjukkan bahwa manusia mengakui kewajiban untuk mentaati Kristus dan mengembangkan kebudayaan sambil juga membedakan antara dua kewajiban itu. Orang Kristen wajib melayani TUHAN dalam dan melalui dunia serta kebudayaan; sekaligus melayani TUHAN melalui dan dalam gereja. Dengan ini muncul warga gereja yang sungguh-sungguh di gereja tetapi sekaligus ia melakukan semua tuntutan adat istiadat.
4.             Sikap Pambaharuan: Kristus [telah] Memperbaharui Kebudayaan. Sikap ini menunjukkan bahwa Kristus sebagai penebus yang memperbaharui masyarakat dan segala sesuatu yang bertalian di dalamnya. Hal itu bukan bermakna memperbaiki dan membuat pengertian kebudayaan yang baru; melainkan memperbaharui hasil kebudayaan. Oleh sebab itu, jika warga gereja mau mempraktekan unsur-unsur budaya, maka perlu memperbaikinya agar tidak bertantangan dengan Firman TUHAN. Hal itu merupakan tugas manusia. Manusia yang membawa amanat Kristus harus membaharui hal-hal lama dalam masyarakat. Karena perkembangan dan kemajuan masyarakat, maka setiap saat muncul hasil-hasil kebudayaan yang baru. Oleh sebab itu, upaya pembaharuan kebudayaan harus terus menerus. Dalam arti, jika masyarakat lokal mendapat pengaruh hasil kebudayaan dari luar komunitas sosio-kulturalnya, maka mereka wajib melakukan pembaharuan agar dapat diterima, cocok, dan tepat ketika mengfungsikan atau menggunakannya.
Ada 5 macam sikap iman Kristen terhadap kebudayaan sebagaimana diungkapkan oleh Dr. J. Verkuyl di dalam bukunya Etika Kristen dan Kebudayaan, antara lain :
1.             Antagonistis atau Oposisi
Sikap antagonistis atau oposisi (menentang, menolak) ialah sikap yang melihat pertentangan antara iman Kristen dan kebudayaan. Dengan segala bentuk pengungkapannya, gereja menganggap kebudayaan sebagai hal buruk dan jahat, manusia telah dikuasai oleh dosa, sehingga segala sesuatu yang dihasilkannya telah dikuasai oleh dosa, akhirnya gereja menjauhkan diri dari kegiatan kebudayaan.
2.             Akomodasi atau Persetujuan
Sikap akomodasi terhadap kebudayaan adalah menyetujui, menyesuaikan diri dengan kebudayaan yang ada. Dengan demikian iman Kristen dikobarkan untuk kepentingan kebudayaan yang ada. Terjadilah sinkritisme. Di dalam pergaulan hidup, disingkirkanlah unsur-unsur agama Kristen yang sekiranya dapat menimbulkan keengganan golongan lain untuk menyesuaikan diri dengan keadaan di sekelilingnya.
3.             Dualisme atau Pengetuban
Sikap dualisme dengan kebudayaan adalah bersikap serba mendua. Gereja dan kebudayaan berdiri seara masing-masing. Pada satu pihak terdapat pada kehidupan kaum beriman kepercayaan kepada karya Allah dalam Tuhan Yesus Kristus, namun manusia tetap berdiri dalam kebudayaan kafir dan hidup di dalamnya.
Lebih jelasnya, terdapat orang Kristen yang beranggapan jika pergi ke gereja harus mempergunakan hukum kasih, di dalam gereja orang percaya harus mematuhi aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh gereja, mempergunakan hukum kasih tetapi setelah kegiatan gereja selesai, dan masuk ke dalam masyarakat, berlakulah aturan-aturan duniawi, kita harus melakukan hukum dunia.
4.             Dominasi atau Sintesis
Yang dimaksud dengan mendominasi berarti menguasai kebudayaan. Thomas Aquinas mengatakan : sekalipun kejatuhan manusia ke dalam dosa telah membuat citra ilahinya merosot, pada dasarnya tidak jatuh total, manusia masih memiliki kehendak bebas yang mandiri. Itulah sebabnya di dalam menghadapi kebudayaan kafir sekalipun, umat bisa melakukan akomodasi secara penuh dan menjadikan kebudayaan kafir itu sebagai-bagian iman, namun kebudayaan itu disempurnakan dan disucikan oleh sakremen yang menjadi alat anugerah ilahi.
5.             Pengudusan dan Pentobatan
Sikap pengudusan adalah sikap yang tidak menolak namun juga tidak menerima, tetapi sikap keyakinan yang teguh bahwa kejatuhan manusia ke dalam dosa tidak menghilangkan kasih Allah atas manusia. Kebudayaan manusia yang berdosa telah tercemar oleh dosa, tetapi Yesus Kristus datang kedunia dan menebus dosa-dosa manusia. Oleh pengorbanan Kristus, kebudayaan manusia dapat diperbaharui, diubah agar menadi lebih baik. Manusia dapat menerima hasil kebudayaan selama hasil-hasil itu memuliakan Allah, tidak menyembah berhala, mengasihi sesama dan kemanusiaan.
2.6      Hubungan Agama dengan Masyarakat
Telah kita ketahui Indonesia memiliki banyak sekali budaya dan adat istiadat yang juga berhubungan dengan masyarakat dan agama. Dari berbagai budaya yang ada di Indonesia dapat dikaitkan hubungannya dengan agama dan masyarakat dalam melestraikan budaya.Sebagai contoh budaya Ngaben yang merupakan upacara kematian bagi umat hindu Bali yang sampai sekarang masih terjaga kelestariannya.Hal ini membuktikan bahwa agama mempunyai hubungan yang erat dengan budaya sebagai patokan utama dari masyarakat untuk selalu menjalankan perintah agama dan melestarikan kebudayaannya.Selain itu masyarakat juga turut mempunyai andil yang besar dalam melestarikan budaya, karena masyarakatlah yang menjalankan semua perintah agama dan ikut menjaga budaya agar tetap terpelihara. Selain itu ada juga hubungan lainnya,yaitu menjaga tatanan kehidupan. Maksudnya hubungan agama dalam kehidupan jika dipadukan dengan budaya dan masyarakat akan membentuk kehidupan yang harmonis,karena ketiganya mempunyai keterkaitan yang erat satu sama lain. Sebagai contoh jika kita rajin beribadah dengan baik dan taat dengan peraturan yang ada,hati dan pikiran kita pasti akan tenang dan dengan itu kita dapat membuat keadaan menjadi lebih baik seperti memelihara dan menjaga budaya kita agar tidak diakui oleh negara lain. Namun sekarang ini agamanya hanyalah sebagi simbol seseorang saja. Dalam artian seseorang hanya memeluk agama, namun tidak menjalankan segala perintah agama tersebut. Dan di Indonesia mulai banyak kepercayaan-kepercayaan baru yang datang dan mulai mengajak/mendoktrin masyarakat Indonesia agar memeluk agama tersebut.
2.7      Pandangan Alkitab Terhadap Kebudayaan Dilihat dari Beberapa Aspek
1.             Tugas Manusia dan Kebudayaan
Dalam Kejadian 1:28 dikatakan “Allah memberkati mereka lalu Allah berfirman kepada mereka : “beranak cuculah dan bertambah banyak, penhilah bumi dan taklukkanlah itu”. Kata “taklukkan” dalam bahasa Ibrani diambil dari kata “kabash”. Istilah ini dipakai sekitar lima belas kali dalam Perjanjian Lama yang berarti menundukkan lawan, atau menaklukkan musuh. Untuk menundukkan itu mambutuhkan kekuatan. Impikasi yang harus dipikirkan, jika hanya sampai disini ialah tindakan sewenang-wenang manusia terhadap alam, sehinhha mengakibatkan kerusakan lingkungan hidup. Namun menaklukkan alam, sebenarnya Adam harus memikirkan, mengerjakan, mengusahakan, mengolah alam ini dan melestarikannya. Mengalahkan bukan untuk membinasakan, melainkan menjadikan alam bermanfaat untuk dirinya dan alam semesta. Manusia mengembangkan cipta dan karsanya bagi kesejahteraan hidupnya. Inilah mandat kebudayaan yang dipercayakan Allah kepada manusia.
2.             Tujuan Kebudayaan
Kebudayaan yang dinyatakan dalam Alkitab, pada mulanya dan seharusnya bertujuan untuk memuliakan Allah (Vertikal). Tujuan selanjutnya untuk meningkatkan kehidupan manusia (Horizontal). Hal yang tidak dapat dipungiri bahwa kebudayaan yang diberikan Allah kepada manusia untuk meningkatkan, mempermudah manusia melaksanakan pekerjaannya.
Contohnya, kalau manusia ingin bekerja di sawah hanya mengandalkan cangkultetapi di zaman modern ini manuisa dipermudah dengan kehadiran alat-alat petanian yang serba modern. Kebyataan yang kita lihat banyak sekali hasil kebudayaan yang dipergunakan bukan untuk mengasihi Allah dan sesama manusia, malinkan untuk penyembahan berhala dan kebanggaan atau ambisi diri.
3.             Kuasa Dosa dan Iblis dalam Kebudayaan
Setelah manusia jatuh dalam dosa, kebudayaan telah menjadi bagian integral keberdosaan manusia. Manusia yang mengelola kebudayaan adalah manusia yang berdosa, maka kebudayaannyapun ikut jatuh ke dalam dosa. Sehingga manusia dapat mengarahkan kebudayaan itu bukan untuk memuliakan Allah. Manusia dapat menciptakan kebudayaan untuk menjadikan hasil kebudayaan sebagai berhala, misal uang.
Dalam kenyataannya tidak sedikit orang yang menganggap uang adalah segala-galanya. Mereka melakukan dan menghalalkan segala cara demi mendapatkan uang. Uang sudah menggantikan Tuhan bagi dirinya.
Bandingkan 1 Timotius 6:10 “karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka”.




3 komentar:

Unknown mengatakan...

ijin copy artikel ya kakak...

Unknown mengatakan...

ijin copy artikel ya kakak...

Unknown mengatakan...

@Yonatan : silahkan :) semoga bermanfaat yaaa :)

Posting Komentar

What the fuck ヾ(´^ω^)ノ♪

Diberdayakan oleh Blogger.
 

♥ Wentii's Blog ♥ Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea