Mengenai kapan mulai muncul agama
Kristen mulai, ada beberapa pendapat yang berbeda: Pertama, mengatakan bahwa
agama Kristen dimulai pada saat peristiwa Pentakosta (turunnya Roh Kudus),
karena pada peristiwa tersebut Tuhan memberikan Roh-Nya kepada Para Rasul atau
orang percaya lainnya, yang memberi kekuatan dan kemampuan kepada mereka untuk
mengabarkan Injil. Kedua,
menunjuk kepada penyebutan terhadap pengikut Kristus sebagai orang-orang
Kristen di Antiokia (Kis. 15:7-21). Ketiga, ada yang menunjuk awal agama
Kristen pada peristiwa Paskah/Kebangkitan Yesus, karena anggapan bahwa
kebangkitan Yesus itu menjadi titik awal dari iman Kristen dan penyebarannya.
Namun demikian, karena sumber pengajaran atau tokoh yang mengajarkan agama
Kristen /Injil adalah Yesus Kristus, maka tentu awal sejarah agama Kristen
dapat kita tunjuk pada waktu ketika Yesus masih hidup dan berkarya, atau bahkan
dapat ditunjuk pada saat kelahiran Yesus. Dengan kata lain, sejarah agama
Kristen sudah dimulai sejak Yesus ada di dunia
dan melakukan karya penyelamatan-Nya.
dan melakukan karya penyelamatan-Nya.
2.2
Definisi Agama Kristen
Pengertian Agama Kristen yang sesungguhnya adalah diambil dari kata Kristen
itu sendiri yang berarti Kristus atau Kristus Kecil. Jadi pengertian Agama
Kristen secara umum adalah Agama Kristus, namun ini hanyalah sebutan saja.
Secara garis besar, pengertain Agama Kristen adalah sekelompok orang yang
percaya kepada Kristus dan beribadah dengan mementingkan aspek-aspek rohani yang
telah diajarkan oleh Yesus Kristus, pertama kali Kristen itu belum ada, yang
ada hanyalah Gereja Mula-Mula atau biasa disebut Gereja Perdana. Agama Kristen,
baru pertama kali di Anthiokhia. Agama Kristen mempunyai banyak aliran, sekali
lagi mirip Agama Islam, dan aliran Kristen Ortodoks Timur, Kristen Katolik
Roma, dan Kristen Protestan. Para ahli juga menyatakan bahwa Islam dan Kristen
adalah agama yang melalui “Proses Evolusi” dari agama primitif, karena seperti
yang diketahui Islam dan Kristen sudah ada sejak berapa tahun ribu silam yang
lalu, jadi tidak heran jika para ilmuan menyebut agama ini sebagai agama hasil
evolusi.
Agama Kristen mempunyai kitab pengajaran yang bernama Alkitab. Seperti yang
sudah disampaikan diatas, Kristen punya aliran-aliran, jadi punya Alkitab
masing-masing, contohnya Kristen Protestan punya 66 bagian kitab yang terdiri
dari 39 pasal perjanjian lama dan 27 pasal perjanjian baru, bedanya dengan
Katolik, mereka ada pasal tambahan yang alkitab mereka disebut Deuteronika.
Di dalam Agama Kristen sangat kental dengan mukjizat-mukjizat yang
menabjubkan yang dilakukan oleh Yesus Kristus, contohnya seperti membelah
lautan, mengubah air menjadi anggur dan lain sebagainya.
2.3
Definisi Budaya
Kebudayaan tentunya bukanlah sesuatu yang asing bagi kita. Untuk lebih
jelasnya apa dan bagaimana itu kebudayaan kita akan melihat beberapa pengertian
kebudayaan dari beberapa tokoh seperti dibawah ini.
Koentjaraningrat mengatakan : “Kata “kebudayaan” berasal dari bahasa
Sanskerta : budhayah, yaitu bentuk jamak dari budi yang berarti “budi” atau
“akal”. Dengan demikian kebudayaan dapat diartikan hal-hal yang bersangkutan
dengan akal. Sedangan kata ”budaya” merupakan perkembangan majemuk dari “budi
daya” yang berarti “daya dari budi” sehingga dibedakan antara “budaya” dari
budi yang berupa cipta, karsa, dan rasa.
Sedangkan menurut E.B. Taylor mengatakan : “kebudayaan adalah kompleks yang
mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan
kemampuan-kemampuan lainnya serta kebiasaan-kebiasaan yang didapat oleh manusia
sebagai anggota masyarakat.
Sementara itu J. Verkuyl mengatakan : “kebudayaan adalah pengerjaan
(pengusahaan, pengelolaan) kemungkinan-kemungkinan dalam alam ciptaan oleh
manusia. Jadi dimanapun manusia mengubah dan mengusahakan
kemungkiknan-kemungkinan jasmani dan rohani di dalam alam yang Tuhan ciptakan,
disitulah terdapat kebudayaan. Dari pengertian-pengertian diatas dapat ditarik
kesimpulan bahwa kebudayaan mencakup seluruh aspek kehidupan manusia.
ü Ciri-ciri kebudayaan:
1.
Bersifat Historis :
manusia membuat sejarah yang bergerak dinamis dan selalu maju, yang diwariskan
turun-temurun. Kehidupan manusia melakukan dan mengalami begitu banyak
perkembangan. Perubahan dan perkembangan yang dilakukan manusia tersebut, pada
umumnya tercatat dalam sejarah kehidupan manusia. Perlu dicatat juga bahwa
tidak ada satu kebudayaan pun yang tinggal statis. Setiap kebudayaan akan
mengalami perubahan-perubahan baik yang bersifat positif, yang mengarah kepada
perkembangan atau perubahan-perubahan yang bersifat negatif. Pengaruh-pengaruh
yang kuat bisa datang dari luar untuk mempercepat berubahnya suatu kebudayaan
perubahan itu bisa terjadi oleh karena asimilasi (penyesuaian) atau oleh karena
akulturasi (peleburan), bisa jadi karena penyesuaian terhadap kebudayaan yang
baru, bisa juga meninggalkan yang lama, oleh karena tidak ada lagi sesuai
dengan tuntutan zaman. Contoh orang tidak lagi akan terus naik delman jika
sudah ada kendaraan bermotor atau pesawat.
2.
Bersifat Geografis : kebudayaan manusia tidak selalu seragam, ada yang berkembang pesat dan
ada yang lamban, ada pula yang mandeg, yang nyaris berhenti kemajuannya. Contoh
Jakarta lebih pesat kemajuannya dibandingkan dengan beberapa suku di Papua,
Badui, dll.
3.
Bersifat Perwujudan Niai-Nilai : di dalam perjalanan kebudayaan manusia selalu berusaha
melampaui (batas) keterbatasannya, sejarah kebudayaan seperti musafir yang
tidak pernah berhenti pada titik tertentu. Kebudayaan ingin selalu menciptakan
yang baru. Manusia dengan kebudayaannya ingin selalu tampil tanpa batas.
2.4
Agama dan Budaya
Yojachem
Wach berkata tentang pengaruh agama terhadap budaya manusia yang immaterial
bahwa mitologis hubungan kolektif tergantung pada pemikiran terhadap Tuhan.
Interaksi sosial dan keagamaan berpola kepada bagaimana mereka memikirkan
Tuhan, menghayati dan membayangkan Tuhan.
Lebih tegas dikatakan Geertz, bahwa wahyu membentuk suatu struktur
psikologis dalam benak manusia yang membentuk pandangan hidupnya, yang menjadi
sarana individu atau kelompok individu yang mengarahkan tingkah laku mereka. Tetapi
juga wahyu bukan saja menghasilkan budaya immaterial, tetapi juga dalam bentuk
seni suara, ukiran, bangunan.
Faktor kondisi yang objektif menyebabkan terjadinya budaya agama yang
berbeda-beda walaupun agama yang mengilhaminya adalah sama. Oleh karena itu
agama Kristen yang tumbuh di Sumatera Utara di Tanah Batak dengan yang di
Maluku tidak begitu sama sebab masing-masing mempunyai cara-cara
pengungkapannya yang berbeda-beda. Ada juga nuansa
yang membedakan Islam yang tumbuh dalam masyarakat dimana pengaruh Hinduisme
adalah kuatdengan yang tidak. Demikian juga ada perbedaan antara Hinduisme di
Bali dengan Hinduisme di India, Buddhisme di Thailan dengan yang ada di
Indonesia. Jadi budaya juga mempengaruhi agama. Budaya agama tersebut akan
terus tumbuh dan berkembang sejalan dengan perkembangan kesejarahan dalam
kondisi objektif dari kehidupan penganutnya (Andito,ed,1998:282).Tapi hal pokok
bagi semua agama adalah bahwa agama berfungsi sebagai alat pengatur dan
sekaligus membudayakannya dalam arti mengungkapkan apa yang ia percaya dalam bentuk-bentuk
budaya yaitu dalam bentuk etis, seni bangunan, struktur masyarakat, adat
istiadat dan lain-lain. Jadi ada pluraisme budaya berdasarkan kriteria agama.
Hal ini terjadi karena manusia sebagai homoreligiosus merupakan insan yang
berbudidaya dan dapat berkreasi dalam kebebasan menciptakan pelbagai objek
realitas dan tata nilai baru berdasarkan inspirasi agama.
2.5
Hubungan Iman Kristen dan Kebudayaan
Kebudayaan dan
berbudaya, sesuai dengan pengertiannya, tidak pernah berubah; yang mengalami
perubahan dan perkembangan adalah hasil-hasil atau unsur-unsur kebudayaan.
Namun, ada kecenderungan dalam masyarakat (termasuk umat Kristen) yang memahami bahwa
hasil-hasil dan unsur-unsur budaya dapat berdampak pada perubahan
kebudayaan. Kecenderungan tersebut menghasilkan dikotomi hubungan antara
iman dan kebudayaan; khususnya iman (umat) Kristen dan kebudayaan.
Dikotomi tersebut memunculkan konfrontasi (bukan hubungan saling
mengisi dan membangun) antara kepercayaan Kristen dan praktek budaya,
karena dianggap sarat dengan spiritisme, dinamisme, animisme, dan totemnisme.
Melihat kenyataan tersebut, dalam Christ and Culture, ditemukan
beberapa sikap Gereja (di dalamnya termasuk para pemimpin organisasi
gereja, teolog, warga gereja) terhadap kebudayaan dan praktek-praktek di
dalamnya, hal tersebut antara lain:
1.
Sikap Radikal: Kristus menentang Kebudayaan. Ini
merupakan sikap radikal dan ekslusif, menekankan pertantangan antara Kristus
dan Kebudayaan. Menurut pandangan ini, semua sikon masyarakat berlawanan dengan
keinginan dan kehendak Kristus. Oleh sebab itu, manusia harus memilih
Kristus ataudanKebudayaan, karena seseorang tidak dapat mengabdi kepada
dua tuan. Dengan demikian, semua praktek dalam unsur-unsur kebudayaan harus
ditolak ketika percaya pada Yesus Kristus.
2.
Sikap Akomodasi: Kristus Milik Kebudayaan. Sikap
ini menunjukkan keselarasan antar Kristus dan kebudayaan. Yesus dianggap
sebagai pahlawan sejarah dunia, kehidupan dan ajaran-Nya merupakan presentasi
dan prestasi manusia yang paling agung. Dalam Yesus, cita-cita proses peradaban
dapat terwujud. Yesus adalah satu-satunya yang dapat menggenapi harapan-harapan
dan idaman umat manusia.
3.
Sikap Perpaduan: Kristus di atas Kebudayaan.
Sikap ini menunjukkan adanya suatu keterikatan antara Kristus dan kebudayaan
atau ajaran iman Kristen dan tuntutan kebudayaan. Hidup dan kehidupan manusia
harus terarah pada tujuan ilahi dan juga berhubungan dengan masyarakat. Ia
harus mempunyai dua tujuan sekaligus. Tujuan kehidupan manusia tidak terbatas
pada dunia. Ia perlu mencari hidup kekal yang disempurnakan di akhirat. Namun,
ia juga bertanggungjawab di dunia. Ia perlu mengasihi dan membangun masyarakat
tetapi juga mengasihi TUHAN Allah. Dengan itu, maka yang dilakukan adalah
melaksanakan semua tuntutan keagamaan dan sekaligus unsur-unsur kebudayaan yang
mungkin saja bisa bertantangan dengan Firman TUHAN.Sikap Dualis: Kristus dan
Kebudayaan Dalam Paradoks. Sikap dualis menunjukkan bahwa manusia mengakui
kewajiban untuk mentaati Kristus dan mengembangkan kebudayaan sambil juga
membedakan antara dua kewajiban itu. Orang Kristen wajib melayani TUHAN dalam
dan melalui dunia serta kebudayaan; sekaligus melayani TUHAN melalui dan dalam
gereja. Dengan ini muncul warga gereja yang sungguh-sungguh di
gereja tetapi sekaligus ia melakukan semua tuntutan adat istiadat.
4.
Sikap Pambaharuan: Kristus [telah] Memperbaharui
Kebudayaan. Sikap ini menunjukkan bahwa Kristus sebagai penebus yang
memperbaharui masyarakat dan segala sesuatu yang bertalian di dalamnya. Hal itu
bukan bermakna memperbaiki dan membuat pengertian kebudayaan yang baru;
melainkan memperbaharui hasil kebudayaan. Oleh sebab itu, jika warga gereja mau
mempraktekan unsur-unsur budaya, maka perlu memperbaikinya agar
tidak bertantangan dengan Firman TUHAN. Hal itu merupakan tugas manusia.
Manusia yang membawa amanat Kristus harus membaharui hal-hal lama dalam
masyarakat. Karena perkembangan dan kemajuan masyarakat, maka setiap saat
muncul hasil-hasil kebudayaan yang baru. Oleh sebab itu, upaya pembaharuan
kebudayaan harus terus menerus. Dalam arti, jika masyarakat lokal mendapat
pengaruh hasil kebudayaan dari luar komunitas sosio-kulturalnya, maka mereka
wajib melakukan pembaharuan agar dapat diterima, cocok, dan tepat ketika
mengfungsikan atau menggunakannya.
Ada 5 macam sikap iman
Kristen terhadap kebudayaan sebagaimana diungkapkan oleh Dr. J. Verkuyl di
dalam bukunya Etika Kristen dan Kebudayaan, antara lain :
1.
Antagonistis
atau Oposisi
Sikap antagonistis atau
oposisi (menentang, menolak) ialah sikap yang melihat pertentangan antara iman
Kristen dan kebudayaan. Dengan segala bentuk pengungkapannya, gereja menganggap
kebudayaan sebagai hal buruk dan jahat, manusia telah dikuasai oleh dosa,
sehingga segala sesuatu yang dihasilkannya telah dikuasai oleh dosa, akhirnya
gereja menjauhkan diri dari kegiatan kebudayaan.
2.
Akomodasi
atau Persetujuan
Sikap akomodasi terhadap
kebudayaan adalah menyetujui, menyesuaikan diri dengan kebudayaan yang ada.
Dengan demikian iman Kristen dikobarkan untuk kepentingan kebudayaan yang ada.
Terjadilah sinkritisme. Di dalam pergaulan hidup, disingkirkanlah unsur-unsur
agama Kristen yang sekiranya dapat menimbulkan keengganan golongan lain untuk
menyesuaikan diri dengan keadaan di sekelilingnya.
3.
Dualisme
atau Pengetuban
Sikap dualisme dengan
kebudayaan adalah bersikap serba mendua. Gereja dan kebudayaan berdiri seara
masing-masing. Pada satu pihak terdapat pada kehidupan kaum beriman kepercayaan
kepada karya Allah dalam Tuhan Yesus Kristus, namun manusia tetap berdiri dalam
kebudayaan kafir dan hidup di dalamnya.
Lebih jelasnya, terdapat
orang Kristen yang beranggapan jika pergi ke gereja harus mempergunakan hukum
kasih, di dalam gereja orang percaya harus mematuhi aturan-aturan yang telah
ditetapkan oleh gereja, mempergunakan hukum kasih tetapi setelah kegiatan
gereja selesai, dan masuk ke dalam masyarakat, berlakulah aturan-aturan
duniawi, kita harus melakukan hukum dunia.
4.
Dominasi
atau Sintesis
Yang dimaksud dengan
mendominasi berarti menguasai kebudayaan. Thomas Aquinas mengatakan : sekalipun
kejatuhan manusia ke dalam dosa telah membuat citra ilahinya merosot, pada
dasarnya tidak jatuh total, manusia masih memiliki kehendak bebas yang mandiri.
Itulah sebabnya di dalam menghadapi kebudayaan kafir sekalipun, umat bisa
melakukan akomodasi secara penuh dan menjadikan kebudayaan kafir itu
sebagai-bagian iman, namun kebudayaan itu disempurnakan dan disucikan oleh
sakremen yang menjadi alat anugerah ilahi.
5.
Pengudusan
dan Pentobatan
Sikap pengudusan adalah
sikap yang tidak menolak namun juga tidak menerima, tetapi sikap keyakinan yang
teguh bahwa kejatuhan manusia ke dalam dosa tidak menghilangkan kasih Allah
atas manusia. Kebudayaan manusia yang berdosa telah tercemar oleh dosa, tetapi
Yesus Kristus datang kedunia dan menebus dosa-dosa manusia. Oleh pengorbanan Kristus,
kebudayaan manusia dapat diperbaharui, diubah agar menadi lebih baik. Manusia
dapat menerima hasil kebudayaan selama hasil-hasil itu memuliakan Allah, tidak
menyembah berhala, mengasihi sesama dan kemanusiaan.
2.6
Hubungan Agama dengan Masyarakat
Telah
kita ketahui Indonesia memiliki banyak sekali budaya dan adat istiadat yang
juga berhubungan dengan masyarakat dan agama. Dari berbagai budaya yang ada di
Indonesia dapat dikaitkan hubungannya dengan agama dan masyarakat dalam
melestraikan budaya.Sebagai contoh budaya Ngaben yang merupakan upacara
kematian bagi umat hindu Bali yang sampai sekarang masih terjaga
kelestariannya.Hal ini membuktikan bahwa agama mempunyai hubungan yang erat
dengan budaya sebagai patokan utama dari masyarakat untuk selalu menjalankan
perintah agama dan melestarikan kebudayaannya.Selain itu masyarakat juga turut
mempunyai andil yang besar dalam melestarikan budaya, karena masyarakatlah yang
menjalankan semua perintah agama dan ikut menjaga budaya agar tetap
terpelihara. Selain
itu ada juga hubungan lainnya,yaitu menjaga tatanan kehidupan. Maksudnya
hubungan agama dalam kehidupan jika dipadukan dengan budaya dan masyarakat akan
membentuk kehidupan yang harmonis,karena ketiganya mempunyai keterkaitan yang
erat satu sama lain. Sebagai contoh jika kita rajin beribadah dengan baik dan
taat dengan peraturan yang ada,hati dan pikiran kita pasti akan tenang dan dengan
itu kita dapat membuat keadaan menjadi lebih baik seperti memelihara dan
menjaga budaya kita agar tidak diakui oleh negara lain. Namun sekarang ini
agamanya hanyalah sebagi simbol seseorang saja. Dalam artian seseorang hanya
memeluk agama, namun tidak menjalankan segala perintah agama tersebut. Dan di
Indonesia mulai banyak kepercayaan-kepercayaan baru yang datang dan mulai
mengajak/mendoktrin masyarakat Indonesia agar memeluk agama tersebut.
2.7
Pandangan Alkitab Terhadap Kebudayaan Dilihat dari
Beberapa Aspek
1.
Tugas Manusia dan Kebudayaan
Dalam Kejadian 1:28 dikatakan “Allah memberkati mereka lalu Allah berfirman
kepada mereka : “beranak cuculah dan bertambah banyak, penhilah bumi dan
taklukkanlah itu”. Kata “taklukkan” dalam bahasa Ibrani diambil dari kata
“kabash”. Istilah ini dipakai sekitar lima belas kali dalam Perjanjian Lama
yang berarti menundukkan lawan, atau menaklukkan musuh. Untuk menundukkan itu
mambutuhkan kekuatan. Impikasi yang harus dipikirkan, jika hanya sampai disini
ialah tindakan sewenang-wenang manusia terhadap alam, sehinhha mengakibatkan
kerusakan lingkungan hidup. Namun menaklukkan alam, sebenarnya Adam harus
memikirkan, mengerjakan, mengusahakan, mengolah alam ini dan melestarikannya.
Mengalahkan bukan untuk membinasakan, melainkan menjadikan alam bermanfaat
untuk dirinya dan alam semesta. Manusia mengembangkan cipta dan karsanya bagi
kesejahteraan hidupnya. Inilah mandat kebudayaan yang dipercayakan Allah kepada
manusia.
2.
Tujuan Kebudayaan
Kebudayaan yang dinyatakan dalam Alkitab, pada mulanya dan seharusnya
bertujuan untuk memuliakan Allah (Vertikal). Tujuan selanjutnya untuk
meningkatkan kehidupan manusia (Horizontal). Hal yang tidak dapat dipungiri
bahwa kebudayaan yang diberikan Allah kepada manusia untuk meningkatkan, mempermudah
manusia melaksanakan pekerjaannya.
Contohnya, kalau manusia ingin bekerja di sawah hanya mengandalkan
cangkultetapi di zaman modern ini manuisa dipermudah dengan kehadiran alat-alat
petanian yang serba modern. Kebyataan yang kita lihat banyak sekali hasil
kebudayaan yang dipergunakan bukan untuk mengasihi Allah dan sesama manusia,
malinkan untuk penyembahan berhala dan kebanggaan atau ambisi diri.
3.
Kuasa Dosa dan Iblis dalam Kebudayaan
Setelah manusia jatuh dalam dosa, kebudayaan telah menjadi bagian integral
keberdosaan manusia. Manusia yang mengelola kebudayaan adalah manusia yang
berdosa, maka kebudayaannyapun ikut jatuh ke dalam dosa. Sehingga manusia dapat
mengarahkan kebudayaan itu bukan untuk memuliakan Allah. Manusia dapat
menciptakan kebudayaan untuk menjadikan hasil kebudayaan sebagai berhala, misal
uang.
Dalam kenyataannya tidak sedikit orang yang menganggap uang adalah
segala-galanya. Mereka melakukan dan menghalalkan segala cara demi mendapatkan
uang. Uang sudah menggantikan Tuhan bagi dirinya.



3 komentar:
ijin copy artikel ya kakak...
ijin copy artikel ya kakak...
@Yonatan : silahkan :) semoga bermanfaat yaaa :)
Posting Komentar